Tak Bisa Melihat, Syahrial Tak Pernah Patah Semangat Jajakan Kerupuk, Ini Alasannya

Keterbatasan fisik kerap menjadi kendala bagi sebagian orang untuk menjalani hidup secara normal.

Bahkan, tak jarang di antaranya menyerah dan berakhir menjadi pengharap belas kasihan di simpang-simpang jalan raya.

Namun tidak bagi Syahrial.

Lelaki penyandang tunanetra ini menolak masuk dalam golongan orang-orang yang menyerah.

Meski tak bisa melihat secara normal, Syahrial tidak putus asa mengarungi hidup.

Alih-alih jadi pengemis, Syahrial justru menunjukkan tekad yang luar biasa, yang tak semua orang dengan kondisi fisik sempurna dapat melakukannya.

Bermodalkan tongkat kesayangan, Syahrial memulai pagi dengan berjalan kaki mengitari Kota Medan untuk menjajakkan kerupuk dagangannya.

Dengan penglihatan yang terbatas, serta tanpa penuntun jalan, tak jarang Syahrial harus merasakan sakitnya terperosok ke lubang-lubang jalanan. Bahkan, ia pernah hampir ditabrak kendaraan ketika berdagang.

Berbagai tantangan ini tidak berarti banyak Syahrial. Bagi lelaki berumur 46 tahun itu, tak ada yang lebih penting dari pada pulang membawa nafkah halal buat keluarga yang sudah menunggunya di rumah.

Cobaan hidup Syahrial tak hanya sampai di situ. Anum, istrinya, juga merupakan penyandang tunanetra.

Dari istrinya itu, Syahrial kini sudah punya dua anak. Mereka tinggal di rumah sewa yang berada di Jalan Ayahanda, Medan.

“Yang penting bagi saya itu keluarga. Bagaimana caranya bisa makan dan anak-anak bisa sekolah,” kata Syahrial saat berbincang di Jalan Sei Padang, Medan, Rabu (17/1/2018).

Menjadi pedagang kerupuk keliling tentu bukan pekerjaan yang begitu menjanjikan. Ia hanya membawa untung sekitar Rp 50 ribu jika dagangannya habis terjual.

Tak jarang Syahrial juga menelan ludah karena dagangannya tidak laku sama sekali.

Meski dalam kondisi yang serba pas-pasan, atau bisa dibilang kekurangan, perjuangan serta kerja keras Syahrial telah membuahkan hasil.

Syahrial berhasil menyekolahkan kedua anaknya. Anak pertama Syahrial kini sudah duduk di bangku kelas dua SMP. Sedangkan anak bungsunya duduk di bangku kelas enam SD.

Meski terlahir dari ayah dan ibu yang menyandang tunanetra, kedua anak Syahrial terlahir dengan mata normal.

“Alhamdulillah, inilah yang membuat saya semangat,” kata Syahrial.

Kegigihan Syahrial juga tak jarang membuat sejumlah orang iba sekaligus salut.

“Iya saya tadi kasihan makanya beli. Saya salut sih melihat bapak ini, walau pun penyandang tunanetra, tapi tetap berkerja keras,” kata Ulul Azmi Utami Butarbutar, mahasiswa Magister Kenotariatan Fakultas Hukum USU.


Artikel asli: http://medan.tribunnews.com/2018/01/17/tak-bisa-melihat-syahrial-tak-pernah-patah-semangat-jajakan-kerupuk-ini-alasannya?page=all


 

Gimana menurut Kawan WPM?

Gimana menurut Kawan WPM?